Selamat Datang di Lohjinawi Project

Lohjinawi Project menghadirkan produk pangan berkualitas langsung dari sumbernya dengan prinsip keberlanjutan, kejujuran, dan kebermanfaatan.

Contact Us

Gabung Sejawat Jawatan
Yang Jarang Diakui: Mayoritas Beras Organik di Pasaran Belum Penuhi Standar Mutu Pemerintah

Yang Jarang Diakui: Mayoritas Beras Organik di Pasaran Belum Penuhi Standar Mutu Pemerintah

Pemerintah sudah punya standar jelas soal mutu beras organik, tapi sangat sedikit petani yang benar-benar memenuhinya. Kami mulai riset kolam pengamatan pertama untuk membuktikan SOP yang bisa menutup gap itu, bukan cuma soal organik, tapi soal mutu yang layak disebut premium.

Pemerintah sebenarnya sudah punya standar jelas soal mutu beras organik: kadar air, batas bulir patah, keseragaman butir. Tapi saat kami cek langsung ke lapangan, sangat sedikit petani organik yang hasil panennya benar-benar memenuhi standar itu.

Mereka tidak berbohong tentang mutu organiknya. Masalahnya adalah penanganan pasca panen yang jauh dari presisi. Kami temukan sendiri polanya ketika mencari sumber gabah untuk Beras Jawatan: butir hancur, ukuran gak seragam, sertifikat mati, tanpa kontrol mutu dari hulu.

IMG 2731

Mutu rata-rata beras di tingkat petani.

Gap sebenarnya bukan perihal organik atau tidaknya saja, tapi petani bisa deliver mutu sesuai standar atau tidak.

Kalau dibiarkan, semua pihak rugi: petani yang jual di bawah harga, brand yang susah jaga konsistensi, sampai konsumen yang menanggung risiko mutu naik turun tanpa sadar.

Daripada berburu supplier baru terus, kami pilih membuktikan sendiri SOP yang bisa bantu petani capai standar itu. Di tulisan ini Anda akan tahu:

→ Apa yang bikin mutu beras organik gagal penuhi standar pemerintah.
→ Apa yang sedang kami uji lewat kolam pengamatan pertama.
→ Kenapa satu kolam kecil ini bisa berarti besar buat petani mitra kami.

1) Riset SOP Mandiri

Anggapan bahwa bulir beras aromatik gampang patah karena "memang sifatnya begitu" sudah lama diterima begitu saja, baik oleh petani maupun brand yang jual hasil panennya. Kami tidak langsung percaya itu.

Ada tiga hal yang selama ini paling sering diabaikan petani umum: kadar air gabah saat dipanen, jeda waktu dari panen sampai digiling, dan cara menjemur yang tidak terukur. SOP yang kami susun menetapkan target presisi untuk ketiganya: kadar air gabah harus mencapai 14% persis sebelum masuk giling, dicek pakai moisture meter, bukan hanya dengan mengira-ngira dari tampilan. Jeda dari panen sampai gabah masuk mesin giling dipatok maksimal 36 jam.

Kami menduga bulir patah bukan soal genetik varietas berasnya, tapi soal seberapa presisi tiga variabel ini dijaga.

Riset kolam pertama ini dirancang untuk mengujinya secara langsung: gabah hasil SOP kami akan dibandingkan dengan gabah kering giling dari petani sekitar, digiling di mesin yang sama, di hari yang sama. Supaya kalau hasilnya beda, bedanya murni datang dari cara penanganan, bukan faktor lain yang bisa disangkal.

Kalau dugaan ini terbukti di kolam kecil ini, maka langkah berikutnya tidak berhenti hanya jadi catatan riset internal.

2) Bukan Cuma Buat Kami, Tapi Cetak Biru Buat Petani Mitra

Kami mulai dari 10 kolam pengamatan dulu. Alasannya sederhana: sebelum mengajak orang lain ikut satu SOP, kami harus jadi pihak pertama yang membuktikan SOP itu benar-benar bekerja, dengan risiko dan tangan kami sendiri.

Begitu hipotesis di poin satu terbukti, SOP ini bukan berhenti jadi dokumen internal. Rencananya, SOP yang sama akan didampingkan ke petani mitra rumahan sebagai pilot lanjutan, lengkap dengan dua hal yang selama ini jarang dikasih ke petani: perhitungan bisnis yang jelas, dan skema kerja sama yang transparan sejak awal.

Ini yang membedakan pendekatan kami: mutu yang lebih tinggi harus sepadan dengan penghasilan yang lebih baik buat petani, bukan cuma standar yang dipaksakan tanpa insentif.

Kami sadar, banyak program pendampingan petani berhenti di tahap edukasi teknis saja, tanpa ada kejelasan soal harga beli, skema naik kelas, atau bagaimana hasil kerja keras mereka dihargai. Begitu bagian itu kosong, SOP sebagus apa pun sulit bertahan lama di lapangan.

Makanya, di samping data hasil giling nanti, kami juga sedang menyiapkan struktur harga bertingkat dan bentuk kerja sama yang bisa langsung dipakai begitu pilot ini siap diperluas.

3) Jawatan Menjamin Kualitas Premium

Semua yang kami kerjakan di kolam pertama ini, pada akhirnya kembali ke satu tujuan sederhana: memastikan beras organik Jawatan yang sampai ke tangan konsumen benar-benar memenuhi mutu yang sudah ditetapkan pemerintah, bukan sekadar mengandalkan label "organik" dan "premium" di kemasan.

Selama ini, klaim organik dan klaim mutu premium sering dianggap satu paket yang otomatis menyatu. Padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda. Organik bicara soal proses tanam yang bebas bahan kimia sintetis. Mutu premium bicara soal hasil akhir: kadar air yang tepat, bulir yang utuh, dan keseragaman yang konsisten dari kemasan ke kemasan.

Sebuah produk bisa saja benar-benar organik, tapi mutunya jauh dari premium karena penanganan pasca panennya berantakan. Ini yang selama ini luput dari perhatian banyak pihak, termasuk kami sendiri di awal perjalanan mencari sumber gabah untuk Beras Jawatan.

Riset kolam pengamatan ini adalah cara kami menutup celah itu, memastikan Beras Jawatan tidak berhenti di klaim organik saja, tapi juga memenuhi standar mutu yang berhak disebut premium.
_______________________________________________________________________

Ini adalah niat baik kami. Dimulai dari aplikasi di 10 kolam terlebih dulu.

kami percaya, perjalanan membangun mutu yang jujur dari hulu ini terlalu penting untuk tidak didokumentasikan sejak langkah pertama, bahkan sebelum kami tahu hasil akhirnya seperti apa.

Sampai update berikutnya, saat benih sudah masuk persemaian dan variabel-variabel ini mulai menunjukkan arah datanya. Kami akan terus bercerita perkembangannya mkepada Anda.

Salam hangat,
Tim Lohjinawi Project