Selamat Datang di Lohjinawi

Lohjinawi menghadirkan produk pangan berkualitas langsung dari sumbernya. Dikelola dengan prinsip keberlanjutan, kejujuran, dan manfaat bagi petani serta konsumen.

Contact Us

Gabung Sejawat Jawatan
Bagaimana Proses Beras dari Sawah Sampai ke Rumah?

Bagaimana Proses Beras dari Sawah Sampai ke Rumah?

Beras yang kita masak setiap hari melewati perjalanan panjang. Dimulai dari budidaya padi, panen, pengeringan gabah, penggilingan, penyortiran, pengemasan, hingga akhirnya sampai ke rumah konsumen.

Beras terlihat sederhana ketika sudah berada di dalam kemasan. Namun, sebelum sampai ke dapur, beras telah melewati proses yang cukup panjang.

Perjalanannya dimulai dari pemilihan benih dan pengelolaan lahan. Setelah tanaman padi tumbuh dan matang, hasil panen masih harus dirontokkan, dibersihkan, dikeringkan, digiling, disortir, dikemas, lalu dikirim kepada konsumen.

Setiap tahap dapat memengaruhi kebersihan, bentuk, aroma, daya simpan, dan mutu beras yang akhirnya kita masak.

Secara umum, proses beras dari sawah sampai konsumen terdiri dari tahapan berikut:

  1. Persiapan lahan dan benih

  2. Budidaya tanaman padi

  3. Pemanenan

  4. Perontokan dan pembersihan gabah

  5. Pengeringan

  6. Penyimpanan gabah

  7. Penggilingan

  8. Penyortiran dan pemeriksaan mutu

  9. Pengemasan

  10. Penyimpanan dan distribusi

Mari mengikuti perjalanannya satu per satu.

1. Persiapan Lahan dan Pemilihan Benih

Proses produksi beras dimulai jauh sebelum padi dipanen.

Petani terlebih dahulu menyiapkan lahan dan menentukan varietas padi yang akan ditanam. Pemilihan varietas dapat disesuaikan dengan kondisi lahan, musim, karakter beras yang diinginkan, ketahanan tanaman, serta kebutuhan pasar.

Lahan kemudian dipersiapkan agar sesuai untuk pertumbuhan padi. Pada lahan sawah, proses ini dapat meliputi:

  • pengolahan tanah;

  • perataan lahan;

  • pengaturan saluran air;

  • pembuatan persemaian;

  • dan penyiapan jarak tanam.

Benih yang telah dipilih biasanya disemai terlebih dahulu. Setelah bibit cukup kuat, bibit dipindahkan ke lahan utama.

Pada beberapa sistem budidaya, benih juga dapat ditanam langsung tanpa melalui proses pindah tanam.

2. Budidaya dan Perawatan Tanaman Padi

Setelah ditanam, padi memasuki masa pertumbuhan.

Selama periode ini, petani perlu mengelola beberapa hal sekaligus, antara lain:

  • ketersediaan air;

  • kesuburan tanah;

  • kebutuhan unsur hara;

  • pertumbuhan gulma;

  • serangan hama;

  • penyakit tanaman;

  • dan kondisi cuaca.

Cara pengelolaannya bergantung pada sistem produksi yang digunakan.

Pada pertanian konvensional, petani dapat menggunakan pupuk dan bahan pengendali organisme pengganggu tanaman sesuai kebutuhan serta ketentuan yang berlaku.

Pada pertanian organik, bahan dan metode yang digunakan harus mengikuti standar sistem pertanian organik. Artinya, bukan hanya hasil akhirnya yang diperhatikan, tetapi juga proses budidaya, pencatatan, penanganan panen, dan pemisahan produk.

Selama masa pertumbuhan, padi akan melewati fase vegetatif, pembentukan malai, pembungaan, pengisian bulir, hingga pematangan gabah.

3. Menentukan Waktu Panen

Padi tidak boleh dipanen terlalu muda maupun terlambat.

Bila dipanen terlalu awal, banyak bulir mungkin belum terisi sempurna. Akibatnya, jumlah gabah hampa dapat lebih tinggi dan beras yang dihasilkan lebih mudah patah.

Sebaliknya, bila panen terlambat, bulir dapat rontok di lahan atau mengalami kerusakan akibat cuaca dan hama.

Karena itu, petani perlu memperhatikan tingkat kematangan tanaman. Beberapa tanda yang biasanya diamati adalah:

  • sebagian besar bulir telah menguning;

  • malai mulai merunduk;

  • butiran gabah terasa keras;

  • dan kadar air telah menurun dibandingkan fase pengisian bulir.

Waktu panen yang tepat menjadi dasar mutu pada seluruh proses berikutnya.

4. Pemanenan Padi

Pemanenan dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan mesin.

Pada cara manual, tanaman dipotong menggunakan sabit, kemudian dikumpulkan untuk dirontokkan.

Pada sistem mekanis, pemanenan dapat menggunakan combine harvester. Mesin ini dapat memotong tanaman, merontokkan gabah, dan memisahkan sebagian kotoran dalam satu rangkaian kerja.

Apa pun metode yang digunakan, proses panen perlu dilakukan dengan hati-hati agar:

  • gabah tidak terlalu banyak tercecer;

  • bulir tidak rusak;

  • hasil tidak tercampur tanah;

  • dan kehilangan hasil dapat ditekan.

Kehilangan sebagian hasil dapat terjadi pada tahap pemanenan, perontokan, pengangkutan, pengeringan, maupun penggilingan. Tahapan-tahapan tersebut termasuk bagian penting dalam perhitungan susut pascapanen padi.

5. Perontokan: Memisahkan Gabah dari Tanaman

Setelah tanaman dipotong, bulir gabah perlu dipisahkan dari tangkai atau malainya.

Proses ini disebut perontokan.

Perontokan dapat dilakukan dengan:

  • cara manual;

  • pedal thresher;

  • power thresher;

  • atau langsung melalui combine harvester.

Hasil perontokan belum otomatis bersih. Gabah biasanya masih dapat bercampur dengan:

  • potongan jerami;

  • daun;

  • tanah;

  • batu kecil;

  • gabah hampa;

  • dan kotoran lain.

Karena itu, tahap berikutnya adalah pembersihan.

6. Pembersihan Gabah

Gabah perlu dibersihkan agar bahan asing tidak ikut masuk ke proses pengeringan dan penggilingan.

Pembersihan dapat menggunakan:

  • tampi atau ayakan;

  • hembusan udara;

  • blower;

  • atau mesin pembersih gabah.

Proses ini membantu memisahkan gabah bernas dari kotoran dan gabah hampa.

Pembersihan dapat dilakukan sebelum maupun sesudah pengeringan. Gabah yang lebih bersih juga membantu menghasilkan mutu beras giling yang lebih baik.

Pada sistem produksi yang memperhatikan keterlacakan, identitas gabah juga perlu dijaga. Gabah dari varietas, petani, lahan, atau sistem produksi yang berbeda sebaiknya tidak dicampur tanpa pencatatan yang jelas.

7. Pengeringan Gabah

Gabah yang baru dipanen masih memiliki kadar air cukup tinggi sehingga belum ideal untuk disimpan atau langsung digiling.

Karena itu, gabah perlu dikeringkan.

Tujuan pengeringan adalah menurunkan kadar air agar gabah:

  • lebih aman disimpan;

  • tidak cepat berjamur;

  • tidak berkecambah;

  • tidak mudah membusuk;

  • dan lebih mudah digiling.

Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa penundaan pengeringan dapat menurunkan kualitas karena gabah dapat membusuk, berjamur, berkecambah, atau berubah menjadi kuning kecokelatan. Pengeringan umumnya dilakukan hingga kadar air sekitar 14 persen.

Pengeringan dapat dilakukan dengan dua metode utama.

Penjemuran dengan matahari

Gabah dihamparkan di lantai jemur, terpal, atau alas lain yang bersih.

Agar pengeringannya merata, gabah perlu dibalik secara berkala. Ketebalan hamparan juga perlu diatur agar bagian atas dan bawah menerima panas secara seimbang.

Kelebihan penjemuran adalah biaya operasionalnya relatif rendah. Namun, prosesnya sangat bergantung pada cuaca.

Pengeringan menggunakan mesin

Gabah dimasukkan ke alat pengering mekanis seperti box dryer.

Metode ini membantu produsen mengontrol proses ketika cuaca tidak mendukung atau ketika volume gabah cukup besar.

Mesin pengering dapat memberikan hasil yang lebih konsisten apabila suhu, aliran udara, dan waktu pengeringannya dikendalikan dengan tepat.

8. Mengapa Gabah Tidak Langsung Digiling Setelah Panen?

Gabah yang terlalu basah sulit digiling dengan baik.

Kulit gabah belum cukup kering untuk mudah dipecah. Beras di dalamnya juga lebih rentan patah atau mengalami kerusakan.

Sumber teknis Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa gabah matang dapat dipanen pada kadar air sekitar 22–25 persen, sedangkan penggilingan memerlukan gabah yang sudah dikeringkan hingga sekitar 14 persen.

Karena itu, pengeringan bukan sekadar proses menjemur hasil panen. Tahap ini menentukan:

  • keamanan penyimpanan;

  • kemudahan pengupasan kulit;

  • jumlah beras utuh;

  • tingkat patahan;

  • warna beras;

  • dan mutu hasil giling.

9. Penyimpanan Gabah Kering

Gabah yang telah mencapai kadar air sesuai dapat langsung digiling atau disimpan terlebih dahulu.

Bila disimpan, gabah perlu ditempatkan di ruang yang:

  • bersih;

  • kering;

  • memiliki sirkulasi udara yang baik;

  • terlindung dari hujan;

  • tidak terkena sinar matahari langsung;

  • serta aman dari burung, tikus, dan serangga.

Karung atau wadah gabah sebaiknya tidak langsung menyentuh lantai. Produsen biasanya menggunakan palet agar terdapat jarak antara karung dan permukaan lantai.

Penyimpanan yang tidak tepat dapat membuat gabah kembali menyerap kelembapan, berbau apek, terserang hama, atau mengalami penurunan mutu.

10. Penggilingan: Mengubah Gabah Menjadi Beras

Penggilingan merupakan tahap yang mengubah gabah menjadi beras yang lebih siap dikonsumsi.

Secara sederhana, proses penggilingan terdiri dari dua tahap utama:

  1. mengupas sekam untuk menghasilkan beras pecah kulit;

  2. menyosoh beras pecah kulit untuk menghasilkan beras putih atau beras sosoh.

Namun, pada penggilingan yang lebih lengkap, prosesnya dapat terdiri dari beberapa bagian.

Pembersihan awal

Gabah diperiksa kembali untuk memisahkan kotoran, batu, jerami, dan bahan asing.

Pemecahan kulit gabah

Gabah dimasukkan ke mesin pemecah kulit atau husker.

Pada tahap ini, kulit luar atau sekam dipisahkan. Hasilnya disebut beras pecah kulit karena lapisan bekatulnya masih menempel.

Pemisahan gabah yang belum terkupas

Tidak semua gabah langsung terkupas dalam satu proses.

Mesin pemisah membantu memisahkan:

  • beras pecah kulit;

  • gabah yang belum terkupas;

  • dan sekam.

Gabah yang belum terkupas dapat dikembalikan ke mesin pemecah kulit.

Penyosohan

Beras pecah kulit kemudian masuk ke mesin penyosoh atau polisher.

Pada tahap ini, sebagian lapisan bekatul dan lembaga dikurangi sehingga dihasilkan beras putih.

Intensitas penyosohan memengaruhi:

  • warna beras;

  • tingkat kilap;

  • jumlah beras patah;

  • dan karakter hasil akhir.

Kementerian Pertanian mencatat bahwa konfigurasi mesin penggilingan memengaruhi mutu dan rendemen beras. Susunan proses yang meliputi pembersihan, pemecahan kulit, pemisahan, dan penyosohan dapat memberikan hasil lebih baik dibandingkan proses yang terlalu sederhana.

11. Hasil Samping Penggilingan Padi

Penggilingan tidak hanya menghasilkan beras.

Dari proses tersebut juga dapat dihasilkan:

  • sekam;

  • dedak atau bekatul;

  • beras patah;

  • menir;

  • dan hasil samping lainnya.

Sekam dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, media tanam, atau bahan pengolahan lainnya.

Dedak dan bekatul dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak atau produk pangan tertentu, bergantung pada mutu dan cara penanganannya.

Beras patah dan menir juga dapat digunakan untuk berbagai produk olahan.

Artinya, satu proses penggilingan menghasilkan beberapa fraksi dengan fungsi yang berbeda.

12. Penyortiran Beras

Setelah keluar dari mesin penggilingan, beras belum tentu langsung dikemas.

Beras perlu diperiksa dan disortir untuk memisahkan:

  • beras utuh;

  • butir patah;

  • menir;

  • gabah yang belum terkupas;

  • batu;

  • kotoran;

  • dan butir dengan warna tidak normal.

Penyortiran dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin.

Mesin yang digunakan dapat berupa:

  • ayakan;

  • grader;

  • destoner;

  • separator;

  • atau color sorter.

Grader memisahkan butir berdasarkan ukuran. Destoner membantu memisahkan batu atau benda berat. Color sorter memisahkan butir berdasarkan warna yang tidak sesuai dengan pengaturan mutu.

Tingkat penyortiran akan memengaruhi keseragaman dan kebersihan produk akhir.

13. Pemeriksaan Mutu Beras

Sebelum dikemas, produsen perlu memeriksa mutu beras.

Pemeriksaan dapat mencakup:

  • kebersihan;

  • kadar air;

  • aroma;

  • kondisi fisik butir;

  • persentase beras utuh;

  • jumlah butir patah;

  • jumlah menir;

  • keberadaan benda asing;

  • dan kesesuaian dengan kategori produk.

Kadar air perlu diperhatikan karena beras yang terlalu lembap lebih mudah mengalami penurunan mutu selama penyimpanan.

Pemeriksaan mutu juga penting untuk memastikan bahwa isi kemasan sesuai dengan informasi yang disampaikan kepada konsumen.

Pada produk tertentu, produsen dapat menambahkan pengujian laboratorium. Namun, jenis pengujian perlu disesuaikan dengan klaim yang ingin dibuktikan.

Sebagai contoh, sertifikasi organik memeriksa kesesuaian sistem produksi. Sementara klaim tentang kandungan atau residu tertentu membutuhkan pengujian laboratorium yang sesuai.

14. Pengemasan Beras

Beras yang telah disortir kemudian dimasukkan ke dalam kemasan.

Kemasan memiliki beberapa fungsi sekaligus:

  • melindungi beras dari kotoran;

  • mengurangi paparan kelembapan;

  • menghambat masuknya serangga;

  • memudahkan penyimpanan;

  • memudahkan pengangkutan;

  • dan menyampaikan informasi produk.

Sebelum digunakan, kemasan harus bersih, kering, dan sesuai untuk pangan.

Informasi pada kemasan umumnya dapat mencakup:

  • nama produk;

  • berat bersih;

  • nama dan alamat produsen;

  • tanggal produksi atau pengemasan;

  • kode produksi;

  • petunjuk penyimpanan;

  • legalitas yang relevan;

  • dan informasi sertifikasi bila ada.

Kode produksi penting untuk keterlacakan. Melalui kode tersebut, produsen dapat menghubungkan satu kemasan dengan data produksi tertentu.

15. Penyimpanan Produk Jadi

Beras yang sudah dikemas perlu disimpan dengan benar sebelum dikirim.

Gudang produk jadi sebaiknya:

  • bersih;

  • kering;

  • bebas kebocoran;

  • tidak berbau tajam;

  • memiliki sirkulasi udara;

  • serta terlindung dari hama.

Kemasan tidak sebaiknya diletakkan langsung di lantai atau menempel pada dinding yang lembap.

Produsen juga perlu mengatur aliran stok agar beras yang diproduksi lebih dahulu didistribusikan lebih dahulu.

Tahap ini penting karena beras yang telah diproses dengan baik tetap dapat menurun mutunya bila disimpan dalam kondisi buruk.

16. Distribusi Beras kepada Konsumen

Setelah dikemas, beras mulai masuk ke tahap distribusi.

Jalur distribusinya dapat berbeda-beda.

Jalur distribusi panjang

Dalam jalur yang lebih panjang, beras dapat berpindah melalui:

  • penggilingan;

  • pedagang besar;

  • distributor;

  • agen;

  • toko;

  • lalu konsumen.

Setiap perpindahan membutuhkan penanganan, pencatatan, pengangkutan, dan penyimpanan.

Jalur distribusi langsung

Pada jalur yang lebih pendek, produsen menjual langsung kepada konsumen melalui:

  • toko milik produsen;

  • komunitas;

  • WhatsApp;

  • situs web;

  • marketplace;

  • atau sistem langganan.

Jalur langsung dapat memudahkan produsen menjelaskan asal produk dan berinteraksi dengan pembeli. Namun, produsen tetap perlu memastikan pengemasan dan pengiriman berjalan baik.

Selama pengiriman, kemasan harus terlindung dari:

  • air;

  • tekanan berlebihan;

  • benda tajam;

  • kontaminasi;

  • dan suhu ekstrem.

17. Beras Sampai ke Rumah Konsumen

Setelah beras diterima, tanggung jawab menjaga kualitas beralih kepada konsumen.

Beras sebaiknya disimpan:

  • dalam wadah tertutup rapat;

  • di tempat sejuk dan kering;

  • jauh dari sinar matahari langsung;

  • jauh dari area yang lembap;

  • dan tidak dicampurkan dengan sisa beras lama sebelum wadah dibersihkan.

Ukuran kemasan juga sebaiknya disesuaikan dengan konsumsi rumah tangga. Beras yang dibeli terlalu banyak akan disimpan lebih lama dan berisiko mengalami penurunan kualitas.

Dengan penyimpanan yang tepat, mutu yang telah dijaga sejak lahan dapat dipertahankan sampai beras dimasak.

Mengapa Setiap Tahap Penting?

Mutu beras tidak ditentukan hanya ketika beras dimasukkan ke dalam kemasan.

Kesalahan pada satu tahap dapat memengaruhi tahap berikutnya.

Contohnya:

  • panen terlalu muda dapat menghasilkan lebih banyak butir yang belum matang;

  • perontokan yang kasar dapat meningkatkan kehilangan hasil;

  • pengeringan terlambat dapat menyebabkan gabah berjamur atau menguning;

  • gabah terlalu basah dapat sulit digiling;

  • penggilingan yang tidak tepat dapat meningkatkan beras patah;

  • penyortiran yang kurang baik dapat menyisakan kotoran;

  • kemasan yang tidak rapat dapat membuat beras terpapar kelembapan;

  • penyimpanan yang buruk dapat memicu bau apek dan hama.

Karena itu, kualitas beras sebenarnya merupakan hasil dari satu rangkaian proses, bukan satu tindakan tunggal.

Mengapa Keterlacakan Beras Penting?

Keterlacakan berarti produsen dapat menjelaskan asal dan perjalanan produknya.

Dalam sistem yang tertata, informasi beras dapat ditelusuri mulai dari:

  • lahan;

  • petani;

  • varietas;

  • waktu tanam;

  • waktu panen;

  • proses pengeringan;

  • tempat penggilingan;

  • waktu pengemasan;

  • hingga kode produksi.

Keterlacakan membantu produsen menjaga konsistensi dan melakukan evaluasi ketika terjadi masalah.

Bagi konsumen, keterlacakan memberikan kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya ada di balik sebuah kemasan.

Tidak semua beras melalui rantai produksi yang sama. Sebagian gabah dapat berpindah melalui beberapa pihak dan bercampur dengan varietas atau sumber lain sebelum digiling. Kementerian Pertanian pernah mencatat bahwa banyak penggilingan memperoleh bahan baku melalui pengepul dan tidak selalu memisahkan gabah berdasarkan varietas.

Karena itu, konsumen dapat menanyakan:

  • dari mana padi berasal;

  • siapa yang memproduksinya;

  • bagaimana proses budidayanya;

  • di mana gabah digiling;

  • dan apakah proses tersebut didokumentasikan.

Dari Sawah hingga Meja Makan

Proses beras dari sawah sampai konsumen dapat diringkas sebagai berikut:

Benih → persemaian → penanaman → perawatan → panen → perontokan → pembersihan → pengeringan → penyimpanan gabah → penggilingan → penyortiran → pengemasan → distribusi → rumah konsumen.

Di balik satu butir beras terdapat kerja banyak pihak: petani, tenaga panen, pengelola pengeringan, operator penggilingan, petugas penyortiran, bagian pengemasan, pengelola gudang, dan tenaga distribusi.

Memahami proses tersebut membantu kita melihat beras bukan sekadar barang yang muncul di rak toko.

Beras adalah hasil dari rangkaian keputusan yang dibuat sejak tanaman masih berada di lahan.

Beras Jawatan dan Proses yang Bisa Ditelusuri

Lohjinawi percaya bahwa konsumen berhak mengetahui bagaimana pangan mereka diproduksi.

Karena itu, proses Beras Jawatan tidak hanya berhenti pada penjualan produk jadi. Kami berupaya mendokumentasikan perjalanan beras sejak dari lahan, budidaya, panen, pengolahan, sertifikasi, pengujian, hingga pengemasan.

Transparansi membantu konsumen memahami apa yang mereka beli dan membantu produsen mempertanggungjawabkan setiap klaim yang disampaikan.

Lihat perjalanan Beras Jawatan dari lahan pertanian sampai ke rumah Anda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Bagaimana proses padi menjadi beras?

Padi dipanen dan dirontokkan untuk menghasilkan gabah. Gabah kemudian dibersihkan, dikeringkan, disimpan, dikupas kulitnya, disosoh, disortir, lalu dikemas menjadi beras.

Apa perbedaan padi, gabah, dan beras?

Padi adalah nama tanaman secara keseluruhan. Gabah adalah bulir padi yang masih memiliki kulit atau sekam. Beras adalah isi gabah setelah sekamnya dilepaskan dan, untuk beras putih, lapisan luarnya disosoh.

Mengapa gabah harus dikeringkan?

Gabah perlu dikeringkan agar lebih aman disimpan, tidak mudah berjamur atau berkecambah, serta dapat digiling dengan lebih baik. Pengeringan umumnya diarahkan hingga kadar air sekitar 14 persen.

Apa yang terjadi saat gabah digiling?

Sekam dilepaskan sehingga terbentuk beras pecah kulit. Setelah itu, lapisan luar beras dikurangi melalui proses penyosohan untuk menghasilkan beras putih.

Mengapa ada beras yang banyak patah?

Beras dapat patah akibat kondisi gabah, pengeringan yang tidak merata, kadar air yang tidak tepat, tekanan mesin, atau konfigurasi proses penggilingan. Teknologi dan pengaturan mesin berpengaruh terhadap mutu hasil giling.

Apakah semua beras dapat ditelusuri sampai ke lahannya?

Belum tentu. Keterlacakan bergantung pada pencatatan dan pemisahan produk yang dilakukan oleh petani, penggilingan, produsen, dan distributor.

Apakah beras langsung dikemas setelah digiling?

Tidak selalu. Beras dapat melalui penyortiran, pemisahan batu dan kotoran, pengelompokan ukuran, pemeriksaan kadar air, serta pemeriksaan mutu sebelum dikemas.